Selain panjangnya perjalanan dan hari-hari yang harus dilalui, langkah-langkah dalam pengurusan barcode menjadi tahapan panjang yang harus dilalui juga.

Setelah melakukan booking dan membayar DP (Down Payment) hotel yang akan digunakan di Saudi Arabia, pengurus PIHK berangkat ke Mekkah untuk tahap awal pengurusan barcode dengan membawa Surat Rekomendasi dari Departemen Agama RI, Surat Ijin Haji dalam bahasa Arab, bukti pembayaran DP atau pelunasan hotel, dsb.

Selain berurusan dengan posko HIMPUH dan Muassasah Asia Tenggara di Mekkah dan Madinah untuk pengurusan hal-hal teknis yang berhubungan dengan system barcode pemerintah Saudi Arabia, pengurus PIHK juga harus berhadapan dengan pengurus hotel di Mekkah, Madinah dan Jeddah (apabila diperlukan) untuk mendapatkan akad kontrak hotel, setelah hotel yang akan dikontrak dinilai memadai dan berhadapan dengan pemilik  rumah atau pengurus apartemen/hotel  transit untuk mendapatkan kontrak serta tanda tangan pemilik atas tasreh (surat keterangan keberadaan fasilitas yang memenuhi standar) akomodasi transit tersebut.

Setelah semua kontrak dan bukti pelunasan (mukhalasah) akomodasi didapat, pengurus PIHK masih harus berhadapan dengan Ghurfah Tijari (sejenis KADIN di Indonesia) untuk mendapatkan pengesahan. Barulah kemudian berhadapan kembali dengan Muassasah untuk pemeriksaan dokumen dan menanti barcode dikeluarkan.

Bukan hanya akomodasi yang pengurusannya menyita banyak perhatian pengurus PIHK selama mengurus barcode, tetapi juga seluruh sisi dari Landing Arrangement jamaah nantinya dan tentu saja yang tidak kalah penting untuk diurus adalah catering alias konsumsi untuk para jamaah nantinya. Enak, bersih, sehat, dekat dari penginapan dan tempat yang nyaman seperti biasa menjadi kriteria utama dalam pemilihan catering.

Semoga semua pilihan untuk semua kebutuhan jamaah selama menunaikan ibadah haji menjadi pilihan yang terbaik dan menjadi kontribusi tersendiri untuk kemabruran haji mereka. Aamiiin yra.